Beranda Kabar Berita Merdeka Dalam Mendidik
Merdeka Dalam Mendidik
Kabar Generasi

MERDEKA DALAM MENDIDIK

Merdeka Dalam Mendidik


17 Agustus 2026 kemarin, seluruh Kuttab Al-Fatih di Indonesia menggelar upacara dan rangkaian kegiatan memperingati Hari Kemerdekaan. Madrasah Al-Fatih dan Kuttab Budi Ashari pun sama. Tapi kemerdekaan yang dirayakan di sini bukan cuma soal bendera dan upacara.

Di sini, kemerdekaan yang sesungguhnya terlihat dari caranya memperlakukan generasi muda.

Di sini, anak muda tidak dikekang potensinya, tidak disuruh menunggu sampai tua untuk dipercaya. Sebaliknya, kekuatan umat yang ada pada pemuda dimaksimalkan sejak dini, untuk kebesaran umat itu sendiri. Itulah kemerdekaan yang kami maksud: merdeka dalam mendidik, dan merdeka untuk dipercaya mendidik.



Madrasah Al-Fatih: Ratusan Santri, Dipimpin oleh Alumninya Sendiri


Perayaan kemerdekaan di Madrasah Al-Fatih diisi dengan upacara, drama kemerdekaan, dan pembacaan puisi, diikuti ratusan santri dari berbagai jenjang dan berbagai daerah. Skala sebesar ini butuh kepemimpinan yang kuat, dan yang memimpinnya bukan sosok dari luar, melainkan alumni yang dulu duduk sebagai santri di tempat ini.


Gus Usamah Haiva, Mudir Madrasah Al-Fatih Poncokusumo - Malang, menyampaikan nasihat yang menohok di hadapan peserta upacara:

"Jangan hanya wariskan tanahnya, tapi wariskan juga perjuangannya. Jika yang dipikirkan hanya kemashlahatan diri bukan kemashlahatan umat, artinya kita telah jauh dari semangat perjuangan."


Di Bogor, Ustadz Fadhlan Aufa, Mudir Madrasah Al-Fatih Situdaun - Bogor, menitipkan pesan serupa dengan bahasa yang lebih sederhana namun tak kalah dalam:

"Kalau merah putih itu masih benar, kalau merah putih itu masih kokoh dalam hati kita, maka kejahatan di negeri ini tidak akan terjadi."


Dua Mudir ini memimpin dua cabang yang berjarak cukup jauh, dan usia mereka masih tergolong muda untuk memegang tanggung jawab sebesar ini. Tapi Al-Fatih tidak menunggu mereka menua dulu untuk dipercaya.


Kepercayaan itu diberikan justru saat mereka masih muda, karena di sinilah letak kemerdekaan yang dimaksud: bukan mengekang, tapi membuka ruang selebar-lebarnya bagi anak muda untuk memimpin dan mendidik generasi setelahnya.



Kuttab Budi Ashari: Puluhan Santri, tapi Siklusnya Lebih Dekat


Kalau di Madrasah Al-Fatih ceritanya soal skala besar, di Kuttab Budi Ashari ceritanya soal kedekatan yang tidak biasa.

Kuttab ini kelola oleh alumni Madrasah Al-Fatih, dengan santri yang jumlahnya hanya puluhan. Tapi angka kecil ini menyimpan makna yang dalam: santri-santrinya adalah anak-anak dari para guru yang mengajar di Madrasah Al-Fatih. Murid yang dulu diajar oleh guru-gurunya, kini berbalik peran menjadi guru bagi anak-anak dari guru-guru itu sendiri.


Perayaan kemerdekaan di sana diisi dengan panggung pentas kostum anak-anak, drama kemerdekaan, pidato bahasa daerah, dan pertunjukan aneka masakan nusantara.


Ustadz Azmi Anindra, Kepala Kuttab Budi Ashari, menyampaikan pesan di hadapan para orang tua santri, yang sebagian besar adalah guru-gurunya sendiri semasa ia dulu menjadi santri:


"Acara ini bukan sekadar pameran kostum adat nusantara, melainkan agar anak-anak bapak dan ibu semua bisa memahami perbedaan yang ada di Nusantara ini, sehingga ketika mereka kelak dewasa, dan harus berdakwah mengelilingi nusantara ini, harapannya mereka akan tahu perbedaan yang akan mereka hadapi nanti."


Seorang murid berdiri di depan forum yang dihadiri gurunya sendiri, bukan lagi sebagai yang diajar, tapi sebagai yang mengajar. Ini tidak akan terjadi kalau Al-Fatih memilih menahan anak muda di posisi murid selamanya. Justru karena ruang untuk mendidik dibuka lebar sejak dini, siklus regenerasi yang biasanya butuh satu generasi penuh untuk terlihat, di sini terjadi dalam jarak yang begitu dekat.


Merdeka Berarti Dipercaya


Madrasah Al-Fatih dengan ratusan santrinya, dan Kuttab Budi Ashari dengan puluhan santrinya, punya skala yang jauh berbeda. Tapi keduanya membawa gambaran yang sama: kekuatan umat ada pada pemudanya, dan kekuatan itu hanya akan keluar maksimal kalau diberi ruang, bukan dikekang.


Gus Usamah Haiva, Ustadz Fadhlan Aufa, Ustadz Azmi Anindra. Tiga orang yang dulu duduk sebagai santri, hari ini berdiri sebagai pendidik, karena tempat mereka tumbuh memilih mempercayai mereka lebih awal, bukan menunggu mereka dianggap cukup umur atau cukup senior.


Bagi kami, itulah wajah kemerdekaan yang sesungguhnya. Bukan sekadar lepas dari penjajahan, tapi juga lepas dari kebiasaan menahan potensi anak muda sampai mereka kehilangan momentumnya.


Kami tidak berani mengklaim ini sebagai keberhasilan. Yang bisa kami lakukan hanyalah terus berikhtiar, membuka ruang bagi generasi muda untuk berkarya, sambil terus berdoa dan berharap kepada Allah.


Semoga jalan pendidikan yang sedang ditempuh ini, di Madrasah Al-Fatih, di Kuttab Budi Ashari, dan di Kuttab Al-Fatih seluruh Indonesia yang sama-sama berikhtiar mendidik generasi umat Nabi ini, Allah ridhai. Dan semoga dari sini lahir pemimpin-pemimpin terbaik yang layak memimpin bumi dengan adil dan cinta.


Wallahu'alam.


----

Ditulis Oleh : Pena Umat

----


Komentar (0)

Memuat komentar...

© 2026 Tarahum.id