KETIKA BUKU PERNAH MENJADI “MEDIA”
Ketika Buku Pernah Menjadi “Media”
Apa yang dapat dipelajari orang zaman sekarang tentang ilmu dari zaman “keemasan” Islam?? Kita hidup di zaman ketika hampir semua pengetahuan dapat dicari hanya dengan beberapa ketukan jari. Mau mencari sesuatu yang baru? Tinggal buka google. Mau belajar bahasa asing? Ada aplikasi. Mau membaca sejarah sebuah kerajaan yang berdiri ratusan tahun lalu? Tinggal cari lewat AI atau website yang menyediakan. Informasi hari ini seperti air, mengalir dimana-mana dan mudah sekali mendapatkannya. Tetapi ada satu pertanyaan penting di zaman informasi seperti sekarang ini :
Apakah kita benar-benar berilmu karena hidup di zaman informasi?
Pertanyaan ini membawa kita mundur ke masa lalu, ke sebuah periode ketika satu buku bukan sekadar benda yang dapat dibeli lalu disimpan di rak. Buku adalah sesuatu yang harus dicari, disalin, diterjemahkan, dirawat, bahkan diwariskan. Salah satu masa yang menarik untuk melihat hal tersebut adalah masa Daulah Abbasiyah. Pada masa itu, perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku. Ia menjadi menjadi tempat ilmu dikumpulkan, diterjemahkan, ditulis, disalin, didiskusikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dan disinilah kita memiliki sesuatu untuk dipelajari.
1. Dulu susah mencari buku, sekarang ilmu mudah dicari
Bayangkan kita hidup pada zaman dahulu ketika untuk mencari ilmu tidak ada google, tidak ada video yang mengilustrasikan peristiwa sejarah, dan tidak ada AI yang secara real time dapat menyuguhkan semua informasi yang kita minta. Pada saat itu, untuk mendapatkan sebuah ilmu kita harus datang dimana ilmu itu disimpan. Salah satu tempat penyimpanan ilmu yang terkenal adalah Baitul Hikmah.
Baitul Hikmah berkembang menjadi pusat keilmuan yang memiliki berbagai kegiatan, seperti pendatangan kitab dari berbagai negeri, penerjemahan, penyalinan, pengembangan ilmu, bahkan penelitian. Di sana terdapat bagian untuk menyimpan banyak karya tulis dan lain-lain. Buku-buku juga disusun agar lebih mudah ditemukan oleh para ulama dan pelajar yang membutuhkan ilmu tersebut.
2. Yang menarik bukan banyaknya buku, tetapi keseriusan terhadap ilmu
Di zaman sekarang, orang yang sudah banyak membaca buku dinggap dia sudah banyak memiliki ilmu, padahal belum tentu hal ini berkorelasi. Seseorang dapat menonton puluhan video edukasi dalam sehari, smartphonenya pun dapat diisi berbagai jenis kitab yang harapannya dapat mempermudah dalam belajar, akan tetapi hal ini tidak penjamin pemahaman yang mendalam terhadap sebuah ilmu.
Pengetahuan Akhirnya Menjadi Koleksi, Bukan Pemahaman.
Pada masa Abbasiyah, yang terjadi justru kebalikan dari kasus di atas. Buku menjadi barang yang mahal dan eksklusif. Tidak sembarang orang memiliki buku. Untuk memperbanyak buku, dibutuhkan para penyalin yang menulis ulang dari awal sampai akhir buku. Hal ini dikarenakan belum tersedianya teknologi pencetakan seperti zaman modern saat ini. Dapatkah kita bayangkan perjuangan tersebut? Bahkan sebuah buku yang berhasil diterjemahkan dihargai dengan emas seberat buku tersebut. Dari sinilah kita dapat mengambil pelajaran sederhana:
Kemudahan mendapatkan informasi seharusnya membuat kita lebih bertanggung jawab dalam menggunakannya, bukan semakin malas memahaminya.
Kita sekarang sebenarnya hidup dalam kondisi yang jauh lebih terbuka. Kita dapat membaca pemikiran dari berbagai negara dengan melihat blog atau video. Kita dapat mendengar kuliah dari universitas di belahan dunia lain, mempelajari bahasa, sejarah, filsafat, teknologi, seni, bahkan kebudayaan yang sebelumnya mungkin tidak pernah kita kenal.
Persoalannya bukan lagi:
“Bagaimana mendapatkan ilmu?”
melainkan:
“Bagaimana memilah ilmu?”
Karena internet tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga memberikan kebingungan. Informasi benar bercampur dengan informasi keliru. Pendapat bercampur dengan fakta. Potongan video bercampur dengan konteks yang hilang. Orang mudah saja dipengaruhi, disetir, diprovokasi hanya karena kata-kata yang belum tentu kebenarannya, gambar yang belum jelas faktanya. Semua itu sudah terjadi pada zaman sekarang. Maka kemampuan membaca pada zaman sekarang bukan hanya kemampuan memahami kata-kata. Namun, juga kemampuan untuk belajar membaca konteks, sumber, dan maksud dibalik informasi.
3. Kita Tidak Harus Kembali ke Perpustakaan Abad Pertengahan
Dikarenakan fakta atau kenyataan yang cukup menyedihkan terkait zaman ini, kita tidak perlu tiba-tiba meninggalkan gadget atau internet, lalu hidup seperti orang abad pertengahan yang tak memiliki teknologi sama sekali. Justru sebenarnya kita memiliki banyak keuntungan yang luar biasa. Kita mempunyai akses terhadap pengetahuan yang tidak bisa dijangkau orang-orang pada masa lalu. Masalahnya adalah ketika sekarang pengetahuan mudah didapat, tetapi kita tidak mencari atau menggali ilmunya dengan serius. Tekad kita sudah mati. Sudah terlenakan dan ter-distract oleh informasi-informasi sampah.
Oleh karena itu, hal yang perlu kita lakukan adalah melihat kembali budaya membaca itu sendiri. Membaca itu bukan berarti kita hanya melihat buku puluhan halaman setiap hari, melainkan juga mencari sumber lain, membandingkan pendapat kita dengan orang lain, lalu mencoba memahami ilmu dengan baik. Layaknya para ilmuan di Baitul Hikmah yang tidak menelan mentah-mentah ilmu dari Persia, Romawi, ataupun India. Melainkan menelaahnya, mengkritiknya, menambahkan, dan kemudian mengembangkannya.
4. Dari Baitul Hikmah kita belajar satu hal, yaitu ilmu membutuhkan ekosistem
Hal yang sering terlupakan oleh kita adalah kemajuan ilmu itu bukan terlahir dari satu orang jenius yang duduk sendirian saja. Baitul Hikmah memiliki berbagai peran seperti: penerjemah, penulis, penyalin, penjilid dan pustakawan. Dengan kata lain ilmu membutuhkan ekosistem yang terus berlanjut.
Ada orang yang menemukan gagasan atau ilmu baru. Ada yang menuliskannya. Ada yang menerjemahkannya. Ada yang menyalin dan menyusunnya. Ada yang menjaga dan merawat dimana tempat ilmu itu disimpan. Dan ada pula yang mengajarkan ilmu tersebut. Hal tersebut juga relevan bagi kita. Budaya membaca tidak akan tumbuh dengan hanya menyuruh mereka untuk membaca saja. Kita membutuhkan lingkungan yang membuat ilmu terasa menarik, yaitu perpustakaan yang hidup dan menarik. Sekolah yang mendorong agar siswanya kritis mempertanyakan ilmu, dan jika dikolaborasikan dengan zaman sekarang maka diperlukan juga konten digital yang tidak hanya mengejar sebuah follower atau like yang tidak sekedar mengejar perhatian, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap penyebaran ilmu.
5. Masalah kita bukan kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi
Kita mungkin mengatakan bahwa generasi sekarang adalah era informasi melimpah, Tetapi sekarang kita menghadapi masalah yang berbeda. Masalah kita sekarang adalah kelebihan informasi. Hukum alam akan selalu berlaku, apapun itu jika berlebihan maka tidak akan terjadi keseimbangan. Ditengan-tengah informasi yang berlimpah, kemampuan untuk menganalisa, memahami, mengingat dan mengolah pengetahuan menjadi sesuatu yang sangat berharga. Kita hidup di masa ketika semua proses menjadi terasa lebih mudah. Semuanya serba cepat dan instan. Secara tidak sadar, hal tersebut membentuk kepribadian manusia yang enggan untuk bersabar. Termasuk kesabaran dalam mencari ilmu.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi perihal, “Apakah kita bisa mendapatkan ilmu? Namun pertanyaan yang relevan untuk sekarang adalah, “Apakah kita benar-benar ingin serius dalam belajar?” Mungkin di situlah hubungan paling menarik antara kita dan sejarah. Bukan tentang menjadi seperti orang-orang pada masa lalu dengan pengetahuannya yang luar biasa. Tetapi tentang menyadari bahwa kemudahan yang kita miliki hari ini adalah sesuatu yang luar biasa. Dulu, sebuah buku harus melewati tangan manusia berkali-kali agar pengetahuan bisa sampai kepada generasi berikutnya. Sekarang, sebuah pengetahuan bisa berpindah ke seluruh dunia dalam hitungan detik. Namun pada akhirnya, satu hal tidak berubah :
Pengetahuan hanya akan menjadi berarti ketika ada manusia yang mau membacanya, memikirkannya, dan meneruskannya.
Khizanah Madrasah Al-Fatih, 11 Agustus 2026
Ditulis Oleh :
Hanif Al Ayyubi S. (Santri Angkatan 8)
-----
Yuk, kita berkontribusi untuk lahirnya generasi yang mencintai literasi, dengan bewakaf menghadirkan Kitab dan Buku untuk mereka baca.
Klik gambar dibawah ini :
© 2026 Tarahum.id
Komentar (0)