BerandaKabar BeritaKebesaran Dimulai Dari I...
Kebesaran Dimulai Dari Iqro!
Renungan Peradaban

KEBESARAN DIMULAI DARI IQRO!

Kebesaran Dimulai Dari Iqro!

Ada sesuatu yang sangat menarik dari awal turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad ﷺ.


Ketika kita membayangkan sebuah agama yang kelak mengubah wajah sejarah dunia, mungkin kita membayangkan bahwa permulaannya adalah sebuah seruan besar untuk mengumpulkan manusia, membangun kekuatan, atau menghadapi kekuasaan yang zalim. Tetapi ternyata bukan itu yang pertama kali disampaikan.


Di Gua Hira, ketika Rasulullah ﷺ sedang menyendiri dalam kegelisahan yang luar biasa melihat kejahiliyahan masyarakat arab saat itu, datanglah Jibril membawa wahyu pertama. Dan ayat pertama yang beliau dengar adalah:


اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”


Lima ayat pertama Surah Al-'Alaq inilah yang menurut pendapat mayoritas ulama merupakan bagian pertama dari Al-Qur'an yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ.


Syaikh Muhammad Izzat Darwazah, seorang mufasir dan intelektual Palestina, menjelaskan dalam At-Tafsir Al-Hadith bahwa ayat-ayat ini belum berisi perintah dakwah secara langsung. Ia melihatnya sebagai sebuah peringatan sekaligus persiapan bagi Nabi ﷺ sebelum mengemban tugas besar yang menanti di hadapannya.


Di sini ada sesuatu yang layak kita renungkan. Nabi ﷺ belum diperintahkan untuk membangun masyarakat, belum diperintahkan memimpin sebuah negara, bahkan belum diperintahkan berdakwah kepada manusia. Sebelum semua itu, beliau diperintahkan untuk membaca.


Perintah itu kemudian diikuti dengan penyebutan tentang pena dan ilmu: Yang mengajar dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”


Menurut Syaikh Darwazah, susunan ini menunjukkan perhatian yang sangat besar terhadap membaca, menulis, dan ilmu. Bahkan ia menyebut Al-Qur'an sebagai “أول داع ديني إلى العلم والقراءة والكتابة”, seruan keagamaan pertama kepada ilmu, membaca, dan menulis.


Perintah Iqra juga tidak berdiri sendiri. Ayat ini berbunyi Iqra bismi rabbik, bacalah dengan nama Tuhanmu. Sehingga membaca dalam perspektif wahyu bukan sekadar aktivitas mengumpulkan informasi. Ilmu memiliki arah dan tujuan. Manusia belajar bukan hanya agar mengetahui lebih banyak, tetapi agar pengetahuannya membawanya semakin dekat kepada Allah dan membuatnya mampu menjalankan amanah yang diberikan kepadanya.


Sejarah umat Islam kemudian memberikan gambaran menarik tentang apa yang dapat terjadi ketika sebuah masyarakat menjadikan ilmu sebagai bagian penting dari kehidupannya.


Dari generasi pertama yang menerima wahyu lahir tradisi membaca, menghafal, menulis dan mengajarkan. Dari tradisi itu berkembang halaqah, kuttab, perpustakaan, madrasah, rumah sakit, Baitul Hikmah dan berbagai pusat ilmu. Para ilmuwan Muslim kemudian memberikan kontribusi dalam matematika, kedokteran, astronomi, filsafat, geografi, arsitektur dan banyak bidang lainnya.


Pada masa tertentu, dunia Islam menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan paling maju di dunia. Kota-kota seperti Baghdad, Kairo, Damaskus dan Cordoba menjadi tempat bertemunya para ilmuwan, penulis, penerjemah dan pelajar dari berbagai penjuru.


Buku menjadi sesuatu yang sangat berharga. Pena menjadi alat untuk menjaga pengetahuan agar dapat berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.


Tentu, sejarah peradaban tidak bisa disederhanakan seolah-olah seluruh pencapaian itu hanya disebabkan oleh satu kata. Ada banyak faktor politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan yang membentuknya.


Tetapi sulit untuk mengabaikan sebuah kenyataan: agama ini memulai perjalanan risalahnya dengan perintah membaca dan kemudian terus memberikan perhatian besar kepada ilmu.


Karena itu, mungkin kita perlu melihat kembali wahyu pertama bukan hanya sebagai cerita tentang masa lalu, tetapi sebagai pertanyaan untuk kehidupan kita hari ini.


Tugas besar apa yang sedang kita bangun dari ilmu yang kita miliki?


Setiap orang mungkin mempunyai bidang peran yang berbeda. Seorang guru membangun manusia melalui pendidikan. Seorang dokter melalui pelayanan dan ilmu yang ia miliki. Seorang pengusaha dapat membangun lapangan pekerjaan dan bederma sosial. Seorang penulis dapat memengaruhi cara berpikir masyarakat. Seorang pembuat konten dapat menyebarkan gagasan kepada jutaan orang. Seorang ayah dan ibu membangun generasi melalui rumah mereka sendiri.


Karya besar tidak selalu berarti sesuatu yang terlihat megah. Kadang ia berupa seorang murid yang berubah karena gurunya, sebuah buku yang membuat seseorang menemukan arah hidup, sebuah lembaga pendidikan yang melahirkan generasi, atau sebuah gagasan yang terus hidup setelah penulisnya meninggal.


Tetapi apa pun bentuknya, karya yang baik membutuhkan pengetahuan. Dan pengetahuan membutuhkan kemauan untuk belajar, dan belajar dimulai dari Iqro.


Mungkin inilah salah satu pesan paling sederhana dari wahyu pertama. Sebelum kita ingin melakukan sesuatu yang besar, kita perlu kembali kepada Iqra. Membaca dengan kesadaran kepada Allah, membaca untuk memahami kehidupan, membaca sejarah agar tidak kehilangan arah, membaca persoalan zaman agar tahu apa yang sedang dihadapi umat, lalu mengolah pengetahuan itu menjadi karya yang bermanfaat.


Syaikh Darwazah melihat bahwa penekanan terhadap membaca, menulis dan ilmu dalam awal turunnya Al-Qur'an merupakan sesuatu yang sangat agung. Seolah-olah manusia sedang diingatkan bahwa kemampuan untuk berilmu dengan membaca adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepadanya, dan nikmat itu bukan hanya untuk disyukuri, tetapi juga untuk dikembangkan dan dimaksimalkan.


Barangkali kita tidak akan menjadi bagian dari sejarah seperti para ilmuwan besar yang namanya dikenal berabad-abad. Tetapi kita tetap memiliki kesempatan untuk meninggalkan sesuatu yang bermanfaat melalui peran kita masing-masing.


Sebab sebuah peradaban tidak dibangun oleh orang-orang yang hanya ingin dikenang sebagai generasi besar. Ia dibangun oleh orang-orang yang mau belajar, berperan dan berkarya untuk sesuatu yang berguna bagi manusia.


Dan semuanya dapat dimulai dari sebuah perintah yang sudah berusia lebih dari empat belas abad, tetapi pesannya masih sama pentingnya hingga hari ini:


اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ

Bacalah dengan nama Tuhanmu.


Mungkin, sebelum bertanya mengapa umat hari ini belum menghasilkan karya sebesar generasi terdahulu, kita perlu bertanya lebih dahulu: seberapa jauh kita telah menghidupkan kembali Iqra dalam kehidupan kita?


----

Ditulis Oleh : Pena Umat

----


Referensi

Muhammad Izzat Darwazah, التفسير الحديث, Tafsir Surah Al-'Alaq, khususnya pembahasan ayat 1 sampai 5 dan bagian “مغزى التنويه بالقراءة والكتابة والعلم في أول ما نزل من القرآن”.

Tafsir Surah Al-'Alaq karya Muhammad Izzat Darwazah

Komentar (0)

Memuat komentar...

© 2026 Tarahum.id