Beranda Kabar Berita Perayaan Ilmu - الحذاقة
Perayaan Ilmu - الحذاقة
Kabar Berita

PERAYAAN ILMU - الحذاقة

Perayaan Ilmu - الحذاقة

ada sebuah peristiwa yang cukup membuat hati saya tertegun, dan memaksa air mata mengalir perlahan di wajah saya. Sebelum saya ceritakan peristiwa itu, izinkan dulu saya menceritakan dua peristiwa sebelumnya yang menguatkan rasa ini.


Peristiwa Sebelumnya Yang Pertama

Saya tidak akan menyebutkan nama asli sosok yang luar biasa ini, demi menjaga keikhlasan beliau dan keberkahan ilmu beliau. Kita sebut saja tokoh di peristiwa pertama ini adalah Abdurrahman.


Beliau adalah salah seorang Ustadz yang sangat kokoh dalam hafalan Quran-nya. Bukan kokoh yang biasa, kokoh yang lahir dari kesungguhan yang tidak semua orang sanggup mengikutinya.

Suatu waktu saya berkesempatan beri'tikaf bersama beliau. Di suatu hari i'tikaf itu, ketika sahur, beliau tidak makan terlalu banyak, bahkan bisa dikatakan kurang.


Beliau bilang dengan santai, "Ana kalau sahur gak pernah makan banyak."


Dan akhirnya beliau melanjutkan shaum dengan keadaan perut yang hanya sedikit terisi.

Saya tidak terlalu memikirkan hal itu saat itu.

Hingga kemudian saya melihat sesuatu yang membuat saya diam.


Di pagi hari hingga menjelang Ashar, beliau berkeliling masjid, melihat dan memperhatikan murid-muridnya yang juga ikut beri'tikaf, berjalan mengelilingi masjid dengan langkah yang tenang. Namun ada yang berbeda. Ada sesuatu yang tidak pernah saya duga sebelumnya.

Mulutnya tidak pernah berhenti.


Dari pagi hingga menjelang Ashar, mulutnya tidak pernah berhenti murojaah, membaca Al-Quran yang beliau hafal. Berjam-jam. Tanpa jeda. Tanpa henti kecuali saat shalat Dzuhur.


MasyaAllah Tabarakallah.


Sampailah setelah shalat Ashar, beliau menghampiri saya. Wajahnya pucat. Langkahnya sedikit gontai.


"Ana pusing akhi, boleh bantu terapi?"


Saya yang waktu itu memang sedang fokus belajar dunia kesehatan, mencoba membantu terapi beliau. Dan dari sedikit ilmu yang saya pahami, terlihat jelas, pusing yang beliau rasakan bukan pusing sembarangan. Ini adalah tubuh yang dipaksa bekerja keras, sementara perutnya hampir kosong. Suhu tubuhnya mulai beranjak demam.


"Antum kelelahan dan terlalu banyak pikiran kayaknya, Tadz ... ditambah perut antum kosong, makan sahurnya sedikit banget ..." kata saya pelan.


Beliau mengangguk, lalu berkata dengan nada yang ... “anehnya” ... terdengar lega.


"Naam akh, ana terlalu memorsir target khataman ane hari ini ... tapi Alhamdulillah tercapai ..."

Saya berhenti memijat sejenak.


"Target apa emangnya, Tadz?" tanya saya, heran.


"Alhamdulillah, hari ini ana sudah khatam Quran ketiga kalinya," jawab beliau sambil menahan sakit karena pijatan yang saya berikan.


Pijatan tangan saya berhenti sebentar.


Saya tertegun dan merenung sambil kembali melanjutkan pijatan dengan lebih pelan.


Di zaman seperti ini, di zaman yang penuh distraksi, penuh hiburan, penuh alasan untuk tidak kembali taat, ternyata masih ada orang yang sakit kelelahan karena mengejar target hafalan Qurannya dari Subuh hingga Ashar.


Khatam ketiga kalinya, dalam waktu belum sehari.


Dan orang ini sakit bukan karena lemah, tapi karena kondisi fisiknya tidak sanggup mengimbangi kokohnya hafalan Quran yang ada di dadanya. Tubuhnya yang terbatas, tidak mampu mengikuti kecintaannya pada Quran yang tidak terbatas.

Kisah peristiwa pertama ini, saya harap sudah bisa memotret, setidaknya sedikit, bagaimana sosok Ustadz Abdurrahman sebagai salah seorang guru di Kuttab Al-Fatih.


Bagaimana interaksi beliau dengan Quran. Dan bagaimana intensitas hatinya dalam mengejar hafalan.

Silakan hati anda sendiri yang menilai.


Oke, sekarang kita lanjut ke peristiwa kedua yang akan menguatkan lagi peristiwa sesungguhnya seperti yang saya sampaikan di awal.




Peristiwa Sebelumnya Yang Kedua

Suatu waktu di Kuttab Al-Fatih, Ustadz Abdurrahman (sosok yang sudah kita pahami bagaimana kualitas interaksi beliau dengan Al-Quran) sedang mengajar anak-anak santri Kuttab Al-Fatih di kelasnya. Kelas yang beliau ajar adalah angkatan pertama di cabang Kuttab Al-Fatih ini.

Generasi pertama. Tunas-tunas paling awal yang dipercayakan ke tangan beliau.


Hari itu, seperti hari-hari biasanya, beliau mengajarkan Al-Quran pada anak-anak halaqahnya.

Namun tiba-tiba ditengah pelajaran, beliau terdiam sejenak.

Tidak ada yang salah dengan bacaan murid-muridnya.

Tidak ada gangguan dari luar.


Ustadz Abdurrahman hanya berhenti, terdiam, lalu perlahan menundukkan kepalanya.

Suasana kelas ikut membeku.


Anak-anak halaqohnya, yang usianya baru mengijak 6 hingga 7 tahun, saling berpandangan, bingung, tidak mengerti apa yang terjadi. Hingga salah seorang dari mereka, murid bernama Abdullah, memberanikan diri bertanya dengan polos,

"Kenapa Ustadz diam?"


Di luar dugaan.

Lagi-lagi, di luar dugaan.


Ustadz Abdurrahman mengangkat wajahnya perlahan. Dan di wajah itu, ada air mata.

Dengan nada yang lirih, dengan suara yang ditahan agar tidak pecah, beliau berkata kepada Abdullah dan seluruh teman-teman halaqahnya,

"Maafkan Ustadz ya, anak-anak ... seharusnya guru yang mengajar kalian bisa jauh lebih baik dari Ustadz ... sesungguhnya, Ustadz belum layak mengajar kalian ..."


Hening.


Bayangkan suasana itu sejenak, seseorang yang sakit kelelahan karena mengkhatamkan Al-Quran ketiga kalinya dalam waktu belum sehari, seseorang yang mulutnya tidak pernah berhenti bermurojaah dari pagi hingga Ashar, orang itu, berdiri di hadapan anak-anak yang belum baligh, dan menangis karena merasa belum cukup baik untuk mengajar mereka.


Ini bukan kelemahan. Ini adalah puncak dari sebuah kecintaan pada ilmu yang sangat dalam, yang justru semakin dalam ia menyelami ilmu itu, semakin ia merasa dirinya belum ada apa-apanya.


Para ulama terdahulu menyebutnya tawadhu' yang hakiki, kerendahan hati yang lahir bukan dari kepura-puraan, tapi dari kesadaran yang begitu jernih tentang betapa agungnya ilmu Allah, dan betapa kecilnya diri di hadapannya.


Air mata yang membasahi wajah Ustadz Abdurrahman di halaqah itu adalah kejujuran dari hatinya yang paling dalam. Dan tanpa beliau sadari, air mata itu bukan hanya miliknya. Ia menetes ke dalam hati anak-anak yang menyaksikannya. Ia menjadi pelajaran yang tidak tertulis di buku mana pun, tidak ada di halaman kitab mana pun.


Jutaan pelajaran, dari satu tetes air mata seorang guru.


Termasuk bagi Abdullah, murid kesayangannya, yang diam-diam menyimpan momen itu jauh di dalam dadanya. Tanpa ia tahu, bahwa suatu hari nanti, momen itu akan ikut membentuk siapa dirinya.


Dari sini, kita sudah mendapatkan potret yang lebih utuh tentang Ustadz Abdurrahman, bukan hanya bagaimana beliau berinteraksi dengan Al-Quran, tapi bagaimana beliau mendidik dengan seluruh dirinya. Dengan Quran-nya. Dengan ilmunya. Dan dengan air matanya.



Peristiwa Sesungguhnya

Sekarang, baru saya akan menceritakan peristiwa yang membuat saya berlinang air mata, seperti yang saya sampaikan di awal kisah tadi.

Hari itu adalah hari Sabtu, 13 Juni 2026.


Dan hari itu bukan hari Sabtu yang biasa.


Di pagi harinya, seluruh Kuttab Al-Fatih se-Indonesia mengadakan Hidzaqoh, sebuah perayaan ilmu, di mana santri-santri menampilkan capaian mereka: hafalan Quran, hafalan matan, dan ilmu-ilmu yang telah mereka tekuni. Sebuah hari yang meriah, yang penuh dengan kebanggaan dan syukur atas perjalanan panjang para santri dan guru-guru mereka.



Dan ketika matahari terbenam, ketika perayaan pagi itu perlahan mereda, hari Sabtu itu belum selesai.


Malam harinya, di Madrasah Al-Fatih Situdaun, ada kajian rutin yang kami kenal dengan nama "Dawuh Kyai". Kajian ilmiah bersama guru kita Kyai Budi Ashari, membahas kitab Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani. dan Sabtu ini adalah pertemuan ke-16.


Kyai Budi Ashari datang dan duduk di singgasana ilmunya yang ada di ruang tengah masjid. Tenang. Seperti malam-malam sebelumnya.

Namun malam itu, Allah sedang menyiapkan sesuatu yang tidak ada satu pun dari kami yang menduganya.


---------


Kajian Dawuh Kyai malam itu berjalan seperti biasa, diawal kajian, Ustadz Makmun membacakan satu hadist dengan suaranya yang jernih, kemudian santri-santri membaca ulang bersama-sama. Teknis yang sama seperti 15 pertemuan sebelumnya.


Namun tiba-tiba, Kyai berhenti.


Beliau menatap santri-santri yang duduk di hadapannya, lalu bertanya dengan nada yang tenang, tapi pertanyaan itu menghujam,

"Siapa di sini yang sudah hafal hadist-hadist di pembahasan bab pertama kitab Bulughul Maram ini? Enam belas hadist, dari enam belas pertemuan kita?"


Suasana menjadi senyap.


Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang mengangkat tangan.

Tidak ada yang berani menjawab. Keheningan itu terasa berat, seperti sebuah cermin yang tiba-tiba dihadapkan ke wajah para santri semua yang hadir.


Kyai melanjutkan, masih dengan nada yang sama. Tenang. Tapi setiap katanya terasa seperti ditimbang dengan sangat cermat.

"Kajian kita ini seminggu sekali. Dalam waktu seminggu, kalau kalian menghafal 1 hadist saja, menurut saya, itu ringan."


Tak ada yang menjawab, kemudian Kyai melontarkan pertanyaan kembali,

"Bagaimana? Sudah ada yang hafal hadist-hadist di bab pertama ini?"

Masih senyap.


"Kalau tidak ada yang hafal, saya cukupkan untuk pertemuan kali ini ..."

Beliau berhenti sejenak. Lalu sekali lagi, dengan sabar, beliau bertanya,


"Sebelum saya tutup, saya bertanya sekali lagi. Bagaimana? Apakah sudah ada yang hafal hadist-hadist di pembahasan pertama ini?"

Dan di tengah keheningan yang membekukan itu,


Satu tangan terangkat.

Pelan.

Tapi pasti.

Dan ketika semua mata menoleh ke arah tangan itu, saya menahan napas.


ternyata santri yang mengangkat tangan itu adalah Abdullah.

Murid kesayangan Ustadz Abdurrahman.

Semua santri terdiam memandangnya.


Ada yang kagum.

Ada yang tidak menyangka.

Ada yang mungkin malu pada diri sendiri.


---------


Kyai memintanya berdiri dan pindah duduk ke depan, di hadapan beliau langsung, untuk diuji hafalan hadistnya.


Abdullah melangkah ke depan.

Dan sebelum ia menyetorkan hafalannya, ia berkata dengan jujur, dengan kejujuran yang mengingatkan saya pada sesuatu, pada seseorang...

"Saya hafal hadist-hadist itu, Ustadz ... tapi nama perawi dan riwayatnya suka tertukar-tukar."


Kyai menatapnya. Lalu bertanya,

"Dari satu sampai seratus, berapa persen kamu yakin dengan hafalanmu?"


Abdullah tidak ragu menjawab.

"60%, Ustadz ..."


Saya tersenyum kecil mendengar itu.

Bukan karena meremehkan. Justru sebaliknya.

Karena saya mengenal gurunya.


Dan saya tahu, 60% dari murid Ustadz Abdurrahman, bukan 60% yang sembarangan.


Kemudian satu per satu hadist mulai dibacakan. Abdullah hafal, meski belum mutqin. Di beberapa titik ia terhenti, mencari kata yang tepat. Dan di sanalah Kyai hadir, dengan sabar, dengan lembut, memancing dengan satu kata, satu penggalan kalimat. Dan begitu terpancing, Abdullah langsung melanjutkan hafalannya dengan lancar, seperti air yang kembali menemukan alirannya.


Ternyata, sebelum Dawuh Kyai dimulai malam itu, Abdullah sudah lebih dulu duduk untuk menghafal hadist yang akan dikaji. Sebuah kebiasaan yang ia bangun secara rutin, tanpa ada yang memintanya, tanpa ada yang melihatnya.


Dari mana kebiasaan seperti itu lahir?


Dari guru yang mulutnya tidak pernah berhenti bermurojaah bahkan ketika berjalan mengelilingi masjid. Dari guru yang rela sakit kelelahan demi mengejar target khataman Qurannya. Dari guru yang menangis di hadapan murid-murid kecilnya karena merasa belum layak mengajar mereka.


Kebiasaan itu bukan kebetulan. Ia adalah warisan.


Singkat kata, dengan hafalan 60% itu, 16 hadist telah selesai dibaca.


Seluruhnya. Satu per satu.

Tuntas.


Dan sesuatu yang tidak terencana pun terjadi, malam itu, seluruh santri yang hadir, tanpa dikomando, telah membuat sebuah janji dalam hati masing-masing: pekan depan, mereka akan hafalkan hadist-hadist itu.


Satu anak mengangkat tangan, dan menggerakkan yang lainnya.



---------



Setelah 16 hadist selesai dibaca, Kyai memintanya berdiri.


Abdullah berdiri.

Melangkah menghampiri Kyai yang duduk di singgasana ilmunya.


Dan kemudian, Kyai mengeluarkan sejumlah uang. Sebuah hadiah.

Untuk Abdullah. Atas capaian hafalannya.


Semua santri menyaksikan.

Takjub.

Hening.


Dan di situlah, air mata saya tidak bisa lagi saya tahan.


Bukan karena hafalannya yang baru 60%.

Bukan karena jumlah uang yang diberikan.

Tapi karena saya tahu.


Saya tahu hal-hal yang mungkin tidak dilihat oleh santri-santri lain yang hadir malam itu.

Saya tahu siapa gurunya.


Saya tahu bagaimana sang guru itu pernah berdiri di depan anak-anak berusia 6 tahun, dan menangis. Bukan karena sedih. Tapi karena cintanya pada ilmu begitu dalam, hingga ia merasa dirinya belum cukup layak untuk menyampaikannya.


Saya tahu bagaimana sang guru itu pernah dipijat kepalanya yang pusing, bukan karena sakit biasa, tapi karena tubuhnya tidak sanggup mengimbangi semangatnya mengkhatamkan Al-Quran ketiga kalinya dalam waktu belum genap sehari.


Dan kini...

Buah dari semua itu...


Berdiri seorang Abdullah. Di hadapan Kyai. Mengangkat tangan sendirian di tengah keheningan yang membekukan. Menyetorkan hafalan yang ia bangun diam-diam, dalam sunyi, jauh sebelum ada yang memintanya.


Saya baru benar-benar memahami sesuatu malam itu.

Hari Sabtu itu, adalah hari Hidzaqoh.


Pagi harinya, Kuttab Al-Fatih se-Indonesia merayakan Hidzaqoh santri-santrinya dengan meriah, dengan penuh kebanggaan dan syukur.

Dan malam harinya, di ruang tengah Masjid Al-Fatih Situdaun, Allah menghadirkan Hidzaqoh yang lain. Yang tidak diumumkan. Yang tidak direncanakan.


Hanya seorang anak yang mengangkat tangan.


Hanya seorang Kyai yang mengeluarkan hadiah dari sakunya.


Dua perayaan ilmu. Satu hari. Dirangkai oleh Allah dengan cara yang tidak pernah terbayangkan oleh siapa pun.

Dan mungkin, inilah jawaban dari pertanyaan yang tidak pernah sempat kita tanyakan.


Bahwa Allah tidak pernah membiarkan keikhlasan seorang guru berlalu begitu saja tanpa perayaan. Bahwa Allah tidak pernah membiarkan air mata yang jatuh di hadapan murid-murid kecil itu mengering tanpa makna.


Allah merayakannya, dengan cara-Nya sendiri.


Di waktu yang Dia pilih sendiri. Di tempat yang Dia tentukan sendiri.



Wallahu'alam.




---------


Hafalan Abdullah yang kuat adalah warisan dari hafalan sang guru yang kuat.


Dan doa orang tua yang tak pernah lepas dari lisan-lisan mereka untuk anak-anaknya, adalah tanah tempat warisan itu berakar.

Jalan pendidikan yang mengakar ini sangatlah berat, dan sepi.


Jauh dari hiruk pikuk dan tepuk tangan.


Mungkin beginilah cara Allah memuliakan ilmu yang ditanam dengan keikhlasan, generasi yang kita didik itu seperti buah yang tumbuh perlahan, kokoh, dan mengakar dalam, pada diri seorang murid yang bahkan belum menyadari betapa berharganya apa yang telah ia terima.


Sobat Tarahum,

tulisan ini bukan sekadar kisah.

Ini adalah cermin, untuk kita yang mungkin sedang lelah, sedang ragu, sedang bertanya-tanya apakah jalan perbaikan generasi ini benar-benar layak untuk diperjuangkan dengan segenap jiwa.

Jawabannya ada pada air mata Ustadz Abdurrahman di hadapan murid-muridnya yang berusia 6 tahun.


Jawabannya ada pada kepala yang pusing setelah 3 kali khatam.


Jawabannya ada pada satu tangan yang terangkat sendirian, di tengah keheningan majelis Dawuh Kyai yang membekukan.


Jalan ini berat. Jalan ini sepi. Jalan ini panjang.


Tapi percayalah, di setiap langkah yang sunyi itu, Allah tidak pernah menutup mata-Nya.


Ada Abdullah-Abdullah lain yang sedang tumbuh di sini. Di halaqah-halaqah yang tidak tersorot. Di tangan guru-guru yang menangis diam-diam karena merasa belum cukup layak. Di doa-doa orang tua yang dipanjatkan di sepertiga malam, untuk anak-anak yang bahkan belum mereka bayangkan akan menjadi apa.


Maka jangan berhenti. Jangan mundur hanya karena jalannya sepi.

Semoga Allah berkahi setiap langkah kita.

Semoga Allah kokohkan kita semua di jalan ini.


Dan semoga Allah pertemukan kita dengan generasi yang kita perjuangkan ini,

di dunia, maupun di akhirat kelak.



Pena Umat

Situdaun - Sabtu, 13 Juni 2026



---------

Saya ingin mengajak sobat tarahum untuk berwakaf perpustakaan Baitul Hikmah Nusantara dan Madrasah Al-Fatih,

klik disini untuk bersama lahirkan Generasi yang kokoh Literasi

© 2026 Tarahum.id